Pagi ini aku berencana olahraga dan jogging ditaman komplek bersama sepupuku-Alvin
Dia janji akan menjemputku jam 8
Perutku terasa lapar
Aku memutuskan turun kedapur untuk membuat sarapan
Hari ini aku sendirian lagi dirumah
Orangtuaku terlalu sibuk bekerja
Bahkan hari libur seperti minggu ini saja mereka masih pergi dengan urusan pekerjaannya
Semua kakakku juga sibuk dengan urusannya masing-masing
Ya, jadilah aku seperti sekarang ini
Roti selai isi coklat dan susu coklat hangat adalah sarapan kesukaanku dari dulu, sama seperti Abel
Aku jadi teringat dia
Mungkin kalau Abel masih ada aku tidak akan merasa kesepian
Abel yang kuat
Abel yang tangguh
Abel yang ceria
Abel yang periang
Aku merindukanmu Bel
Kutinggalkan sarapanku di meja dapur
Aku berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku
Aku mencari benda yang bisa mengobati rasa rinduku kepadanya
Aku dapat
Satu album foto dikotak coklat yang kusimpan didalam lemari sejak saat itu
Dan aku baru membuka lagi lembar demi lembar setiap foto yang ada dialbum ini
Aku bisa melepas rinduku hanya dengan melihat fotoku dan Abel
Walaupun tidak sepenuhnya rasa itu hilang
Dihalaman terakhir aku menemukan sebuah foto
Ya aku masih sangat ingat dengan wajah itu
Dua anak kecil yang sangat mirip wajahnya denganku
Sedang berdiri didepan kue ulangtahun berangka lima
Wajah mereka sangat ceria
Gaun pink yang dikenakan pas ditubuhnya dan terlihat lucu
Tawa riang, lagu, balon, kado menambah kebahagiaan mereka
Tak lupa kehadiran Papa, Mama, ka Davin, ka Dava, ka Giselle, Oma, Tante Om Alvin-orangtua Alvin, Alvin dan teman-teman mereka juga tentunya
Hari itu menjadi hari yang sangat spesial bagiku dan Abel
Kami adalah saudara kembar
Abel lahir lebih dulu dariku
Makanya dia jadi kakak aku
Tapi kebahagiaan itu cuma sebentar aku rasakan
Hanya numpang lewat saja seperti iklan di televisi
Tidak bisa aku rasakan sampai lama
Sore itu aku, Abel dan ka Dava pergi ke toko kue
Langit sudah gelap, tanda-tanda akan turun hujan
Tapi itu tidak menghentikan niat dan semangatku
Karna ka Dava berjanji akan membelikanku coklat
"Ka Dava aku mau coklat yang itu, ini, itu, ini, itu" tunjukku kearah coklat-coklat yang kuinginkan
"Iya Adel, kamu cerewet banget sih" jawab ka Dava
Abel hanya tertawa dan menggelengkan kepala heran karna sifatku yang sangat manja itu
Saat keluar dari toko, beberapa coklat yang berbentuk bulat seperti bola jatuh dari kantongnya
Coklat itu menggelinding ke jalan raya
Aku berlari untuk mengejarnya tapi Abel menahanku
Dia bilang coklat itu masih bisa dibeli lagi
Aku tidak menggubris perkataannya
Aku tetap berlari mengumpulkan coklat yang jatuh itu
Abel terus mengejarku
Hujan sudah mulai turun
Jalanan pun sudah basah oleh air hujan
Entah apa yang membuat Abel jatuh saat mengejarku
Mungkin karna jalan yang licin
Aku berbalik mendengar teriakan Abel
Aku berusaha lari menghampirinya
Begitu pun ka Dava
Sial, kecepatan lariku dan ka Dava kalah cepat
Mobil dari arah belakang Abel yang tak terkendalikan langsung menabrak tubuh Abel yang kecil mungil itu
Abel terpental jauh beberapa meter
Tubuhnya jatuh terhempas diaspal jalan
Mobil itupun berhenti karna orang sekitar yang melihat kejadian menghadangnya lewat
Aku tak peduli akan itu
Aku dan ka Dava segera berlari menghampiri Abel
Hujan turun sangat deras disertai petir yang besar
Tubuh Abel kaku, dingin, mukanya pucat
Aku tak bisa berkata apa-apa
Sedangkan ka Dava menangis sejadi-jadinya memeluk Abel dipangkuannya
Tak lama mobil ambulance datang
Aku ikut bersama ka Dava dan suster kedalam mobil yang seram itu, aku sangat takut sebenarnya dengan mobil ini
Yang aku tahu, mobil ini selalu membawa jenazah
Aku takut itu juga terjadi pada Abel
Pikiranku sudah melayang tak jelas
Aku hanya diam saja melihat Abel yang sedang diberi bantuan nafas oleh petugas medis yang ada didalam
Sesampai dirumah sakit Abel langsung dibawa keruang UGD
Aku dan ka Dava menunggu diluar
Kami tak diizinkan masuk
Karna ruangan itu memang harus steril dan tidak boleh siapapun masuk, kecuali dokter, perawat dan petugas medis lainnya
Ka Dava menghubungi Papa dan Mama
Mereka pun datang bersama ka Davin, ka Giselle, Oma, Tante dan Om Alvin, Alvin
Tak lama dokter keluar dari ruangan
Dengan wajah sendu dan keringat yang memenuhi seluruh wajahnya
Dokter itu berkata pelan dan hati-hati
Kami semua terdiam menunggu dokter itu berbicara
"Kami sudah berusaha semampu dan semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Maaf, putri anda tidak terselamatkan. Keluarga yang kuat ya. Saya permisi, trimakasih."
Hanya itu kalimat dokter yang aku ingat dan selalu terngiang-ngiang di pikiranku sampai sekarang
Aku sangat menyesali kejadian itu
Mama yang down sekali selalu menyalahkanku
Begitupun Papa, ka Davin, ka Giselle, Tante dan Om Alvin
Hanya Oma, Alvin dan ka Dava yang ada dipihakku
Mereka tak pernah samasekali menyinggung masalah itu
Justru merekalah yang sampai saat ini terus mendukung aku untuk bangkit lagi
Ya, aku memang salah
Kalau saja aku nurut waktu Abel menahanku
Mungkin kejadian itu tidak akan pernah terjadi dan menimpa Abel
Akulah yang membuat Abel meninggal
Aku pembunuh saudara kembarku
Aku menyesal, sangat menyesal
Bel, maafin aku
Aku kangen kamu Bel
Kapan kita ketemu lagi Bel
Kita main bareng lagi
Tak terasa air mata terus mengalir dipipiku
Dan aku tersadar akan lamunanku
Aku mendengar seseorang memanggilku dari bawah
Itu Alvin sudah datang
Aku segera mengusap wajahku
Kututup kembali album foto itu
Kutaruh dikotak coklat lalu kusimpan dilemari
Aku menuruni anak tangga untuk menemui Alvin
Dia melihat mataku yang merah dan sembab
Aku berbohong
Aku bilang semalam habis menonton drama korea yang sedih hingga larut malam
Untungnya dia percaya
Aku dan Alvin pun pergi ke taman komplek
Bel, hujan punya cerita tentang kita
Cerita memilukan dan menyedihkan
Aku merindukanmu selalu Bel
Semoga kita ketemu lagi ya
Kamu datang dong ke mimpi aku
Fiksi atau beneran van? Asli ga sih?
BalasHapusFiksi ka el haha itu jg dpt inspirasi dari cerita2 di wattpad
Hapus